Iklan dan Politik

27 08 2008

…Dari buahnyalah engkau akan mengenal pohonnya….

Mencermati perkembangan iklan di televisi saat ini, apalagi setelah dibukanya keran kampanye untuk periode pemilihan Presiden tahun 2009, menimbulkan eforia baru dalam iklan televisi. Mulai muncul iklan-iklan televisi dengan corak dan warna yang baru, yaitu mengedepankan “kepentingan rakyat”.

Dari yang mulai beriklan dengan orang-orang yang berprestasi, membela rakyat dengan mengedepankan rakyat kecil sebagai wakil mereka dengan menduduki jabatan ketua organisasi tertentu, menunjukkan potensi-potensi di pelosok-pelosok yang perlu dikembangkan dan sebagainya.

Apakah itu sesuatu hal yang tabu? Ataukah memang semestinya demikian?

Ada 2 hal penting yang harus diperhatikan:

1. Membela kepentingan rakyat adalah hal yang penting. Semua iklan itu perlu adanya, karena memang itulah yang rakyat inginkan. Memberikan impian itu juga penting, karena hidup tanpa impian adalah hidup yang tidak berarti. Impian menggerakkan energi kita untuk mencapai sesuatu yang lebih baik lagi.

2. Pembuktian adalah kunci dari iklan tersebut. Kita bisa melihat buktinya dari “jejak” yang mereka pernah torehkan, walaupun kita tidak boleh menutup mata atas kemungkinan “perubahan” pada setiap manusia.

Dari kedua hal itu, manakah yang peling penting? Poin 1 atau 2?

Tindakan lebih penting dari kata-kata. Apa yang dilakukan itu lebih bermakna dari pada apa yang dikampanyekan.Kita bisa melihat jejak masa lampau mereka, dan kalau ada yang “terbuai” dan memilih mereka yang akhirnya menjadi Presiden, kita bisa melihat jejak yang mereka torehkan pada masa kepemimpinan mereka. Tetapi bukankah “memelihara” kelangsungan negara tidak mudah, kalau boleh dikatakan sangat sulit? Sehingga kalau seseorang gagal memimpin sesuatu, bukankah dia bisa berkilah bahwa merubah sesutu itu tidak mudah?

Kalau demikian bagaimana bisa menilai kemampuan seseorang?

Sesungguhnya, kemampuan pribadi setiap orang yang mengajukan diri menjadi seorang pemimpin bangsa, tentu tidaklah sembarangan. Setiap orang yang mencalonkan diri tentulah sudah mempunyai “kualitas dasar” dalam memimpin sebuah bangsa. Kemampuan pribadi itu tidaklah diragukan. Dalam hal ini, saya tidak merisaukan akan slogan “berpengalaman” dan “tidak berpengalaman”. Kalau demikian, bagaimana menilainya?

…Dari buahnyalah kita mengenal pohonnya….

Ini prinsip yang baik untuk kita pelajari. Pohon anggur tidak mungkin menghasilkan buah semangka, semak duri tidak mungkin menghasil apel. Seseorang yang berkualitas akan terlihat dari tindak tanduknya. Bagaimana melihatnya?

Sederhana saja, diadakan “tes kredibilitas” pada hidup kesehariannya. Dilihat bagaimana sikapnya dirumah terhadap pembantu, supir atau bawahan yang paling kecil dalam lingkup kerjanya. Di tes juga secara psikologis terhadap keluarganya mengenai pandangan mereka terhadap sang calon presiden, baik sang istri dan anak-anaknya. Ini penting sekali. Parameter ini tidak bisa diabaikan, karena bukti “buah” yang sesungguhnya dari “pohon” kredibilitas pemimpin hanya bisa dilihat dari “pola” hidup kesehariannya.

Ini memang tidak mudah…, tapi bisa dipikirkan…

Iklan

Aksi

Information

One response

22 09 2008
Ajaran

Sulit sekarang menentukan partai berdasarkan buahnya, terlalu pragmatis…
Dari platform nya, juga terlalu bias…

Yang penting, Pancasila harus tetap sebagai dasar ideologi negara ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: