Membaca Koran Bolong

29 08 2008

…. api kesulitan memurnikan iman …

Alkisah ada seorang bapak ingin memberikan yang terbaik buat anaknya. Tetapi apa mau dikata, dunia ini begitu penuh dengan tipu daya, termasuk juga ide dan pemikiran yang dapat meracuni pikiran sang anak. Karena itu, sang bapak coba “melindungi” sang anak dengan cara memproteksi dari informasi-informasi yang bagi sang ayah dapat merusak anaknya. Termasuk koran tentunya.

Apa yang dilakukan sang bapak? Setiap hari, ia bangun pagi-pagi sekali, lalu melahap semua isi koran pagi tersebut. Kemudian menggunting bagian-bagian koran yang dianggapnya kurang baik, setelah itu meletakkan koran tersebut di tempatnya untuk dibaca anaknya.

Apa yang terjadi kemudian? Apakah reaksi sang anak? Bagaimana menurut anda kelanjutan cerita tersebut?

Sederhana saja….

Sang anak malah sangat tertarik dengan koran yang bolong itu. Fokus dan pikirannya tertuju bukan pada isi koran yang masih ada, malah pada yang bolong tersebut. Kenapa bisa bolong? Apa sih sebenarnya isinya? Kenapa ayah mengguntingnya? Kenapa saya tidak boleh membaca?

Dorongan itu malah membuat sang anak mencari tahu dan berusaha melihat apa yang “sengaja” disembunyikan sang ayah.

Menyembunyikan sesuatu yang kita anggap sekalipun kurang baik, demi melindungi orang yang kita kasihi, bukanlah jalan keluarnya. Sejauh mana kita bisa melindungi? Sejauh mana kita bisa memproteksi? Yang terbaik adalah menumbuhkan iman sang anak dengan prinsip-prinsip yang benar. Karena kalau imannya sudah benar, kemana saja pergi, sang ayah tidak perlu takut. Sang anak bisa memproteksi diri sendiri. Tentu ia membaca dan melihat hal-hal yang kurang berguna , tetapi pondasi imannya akan melatihnya.

Latihan yang terbaik bukanlah melarikan diri dari masalah, tetapi menyelesaikan masalah tersebut. Bagaikan emas murni, tingkat kemurniannya tergantung seberapa lama emas tersebut dibakar dan dilebur, seberapa lama emas tersebut berada didalam “api pemurnian”.

Melepaskan sang anak dari kesulitan dan api pemurnian malah membuat anak tersebut menjadi anak yang cengeng, lemah dan tidak tangguh. Tetapi melibatkannya dalam “api kesulitan” akan membuatnya semakin cemerlang. Tentu ini diperlukan persiapan iman yang baik, bagaimana sejak dini melatih kejujuran, kebaikan dan penghargaan dengan kebenaran sejati itu. Ini diperlukan, bahkan sangat diperlukan bagi perkembangan yang sehat.

Coba perhatikan ikan di air deras dan ikan di air tenang, berbeda bukan hasilnya? Ikan di air deras lebih sehat dan kuat, lebih besar, lebih gesit. Demikian juga dengan iman kita.

Kalau anda sebagai sang bapak, apa yang anda perbuat pada koran tersebut?

Iklan

Aksi

Information

25 responses

29 08 2008
esensi

Saya tidak akan membaca koran. Gempuran harga-harga barang, berita kriminil, korupsi, iklan, dan varian-varian monoton lainnya lah yang kerap menghias koran. Jika saya seorang bapak, saya akan menunjukkan perilaku progresif seorang bapak yang pantas. Tergantung konteks tentunya. Buku-buku kritis dengan landasan pertanyaan “mengapa”, akan saya buat agar anak saya penasaran terhadapnya. Selebihnya, ia punya perspektif dan jalan hidup sendiri. Saya tidak bisa memaksakan.
.
Btw, saya cukup kurang senang jika anda malah memberikan saya analogi atas statemen saya. Dengan analogi, segalanya bisa dirasa rasional, tapi sebetulnya disanalah banyak terdapat “bolong-bolong” argumen.
.
Salam,

30 08 2008
Iman Kristen

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan. (Ulil – Pakar Islam).

Source: http://ulil.net/

1 09 2008
Acturus

Nice writing :p

Yah ini memang berbanding lurus dengan melarikan diri dalam masalah, namun menurut saya dalam konteks ini, sang bapak hanya tak ingin anaknya yang mungkin umur nya relatif masih kecil (meski tak disebutkan disini) mengetahui bagian-bagian yang sang Bapak rasa kurang baik untuk nya..mungkin seperti membiarkan anak-anak melihat gambar porno atau aksi kekerasan yang berlebihan

Tapi lambat laun pasti sang anak akan mengetahui kegelapan yang ada, ini tak bisa dipungkiri jadi andaikan saya jadi Bapak nya mungkin saya akan tetap menggunting bagian koran itu lalu sampai saya merasa sang anak sudah cukup untuk mengetahui semua itu lalu saya akan menjelaskannya, membiarkannya bertumbuh dan dewasa dulu sampai ia bisa mencerna semua hal-hal itu

Tapi kalau dalam konteks jawaban saya yang di atas itu…kayaknya se akan-akan semuanya saya yang mengatur yah..padahal usia kesiapan nya itu kan tak bisa diketahui dengan pasti oleh sang Bapak :p

1 09 2008
Iman Kristen

Thanks atas komentarnya.

Dari sudut pandang anda tersebut diatas, coba bandingkan dengan tulisan Kebenaran Sejati saya dan komentar dari Essensi.
Kira-kira, yang bisa main internet dan buka blog saya, itu umur berapa ya?
Untuk orang dewasa, anda setuju saja dengan tulisan diatas, sudah tidak ada lagi konsep pengguntingan.

Sekarang coba kita sedikit memperluas untuk konsep yang membaca anak kecil (kasus anak kecil ini sudah tidak relevan lagi dengan tulisan saya yang disanggah oleh Essensi).

Untuk melarang anak kecil ada 3 kemungkinan:
1. Koran yang “saya punya” saya gunting.
2. Koran yang “orang lain punya” juga saya gunting.
3. Memberikan penjelasan sama anak tersebut jangan baca koran ini (tapi tidak melakukan pengguntingan), karena bla bla bla…. dst…

Mana yang paling memungkinkan menurut anda?

Salam.

3 09 2008
bisaku

Yang harus dibahas juga adalah koran apa yang dibacanya? Saya ingat dulu Ayah saya justru memaksa saya membaca koran sebagai bahan belajar saya untuk latihan membaca 🙂 Tidak ada kata-kata dari ayah saya tentang bagian mana yang patut saya baca atau tidak; namun, saat saya bertanya tentang apa yang saya baca? Ayah saya dengan sigap menjawab apa yang saya tanyakan.

Tapi jangan ditanya apa yang akan dilakukan beliau saat saya menolak untuk latihan membacanya, beliau pasti akan bersikeras dengan cubitan di bagian paha saya. Tapi saya mengingat bahwa sebagai Ayah yang baik, Ayah saya telah berbuat sesuatu untuk saya mengenai pemilihan korannya, karena koran yang saya baca tersebut tentunya sudah dipilih oleh Ayah saya dengan seksama.

Ok, saya akui ini memang sudah diluar konteks 🙂 Tapi untuk menjawab pertanyaan diatas, kira-kira saya akan melakukan persis seperti yang Ayah saya lakukan.

*saya ingat waktu itu, koran yang diberikan oleh Ayah saya adalah koran Kompas dan sesekali majalah Tempo*

3 09 2008
Iman Kristen

Thanks untuk saudara Bisaku.

Anda punya kebijaksanaan.

Salam.

4 09 2008
lovepassword

hik hik bos Iman Kristen : Analogi kamu masuk akal juga. Tapi gini bos, kita harus bandingkan juga antara peningkatan rasa ingin tahu akibat batas yang anda buat serta efek buruk andaikata batas itu endak ada.

Anda di situ pake koran bolong sebagai analogi. 1. Karena koran bolong maka bagian koran yang bolong tidak bisa diakses/dibaca 2. Tapi di sisi lain koran bolong itu juga menumbuhkan rasa ingin tahu.

Gimana kalo saya sekarang saya pake analogi lain :

Ada tempat latihan tentara di pinggiran hutan . Tempat semacam itu berbahaya karena anggap saja ada ranjau . Karena berbahaya maka dipasang pengumuman dilarang masuk dan diberi pagar.

Adanya pagar di situ otomatis juga akan membangkitkan rasa ingin tahu. Tetapi bila tidak diberi pagar, tentu ada resiko warga sekitar situ kena ledakan bom.

Fungsi tatanan saya rasa seperti itu.

Merumuskan kapan kita harus membuat batas (dengan konsekuensi malah membuat rasa ingin tahu) serta kapan kita harus membiarkan ( dengan konsekuensi tanpa sengaja ada yang kena bom) – saya rasa nggak sederhana bos. Itu perlu pemikiran dan kebijaksaanaan. Perlu ditimbang dari banyak aspek.

Hik Hik. Oke bos.

SALAM

4 09 2008
Iman Kristen

He he he…

Saudaraku…, tulisan saya ini tidak membunuh siapapun. Apa ada?

Warning juga sudah saya kasih tahu, apa anda tidak baca? Yang fanatik, emosional, close system…, jangan baca.

Sekarang begini deh…, suruh saja setiap website yang menuliskan Yesus itu nabi dihapus. Minta juga setiap website yang tulis, Alkitab itu sudah tidak benar lagi tolong dihapuskan juga. Karena itu bom mematikan (mengutip istilah ucapan anda) bagi kami. Nanti tulisan saya ini, saya hapus.

Nah , kalau ada muslim menuliskan Yesus itu Allah, diperbolehkan…, karena itu bukan bom.

Salam.

5 09 2008
lovepassword

Saya nggak pernah menuduh tulisan ini membunuh. Anda memakai analogi, saya juga memakai analogi. Nggak perlu ditafsirkan sampe sedemikian jauhnya seolah-olah saya menganggap blog anda ini benda berbahaya seperti bom atom.

Coba anda hilangkan dulu prasangka anda. Anggap saja saya ini orang yang anda temui di hutan yang sedang berdiskusi dengan anda.

Saya cuma mau ngomong kalo adanya batasan memang membangkitkan rasa ingin tahu. Tapi ada kasus-kasus tertentu dimana kita harus tetap membuat batasan ada juga kasus dimana kita nggak perlu membuat batas. Makanya kita harus menimbang-nimbang secara bijak. Sebelum memutuskan membuat batasan atau tidak.

Tulisan saya murni cuma untuk memberikan anda sudut pandang yang lain. Nggak ada hubungannya sama sekali dengan pikiran anda bahwa saya menganggap blog anda berbahaya.

Analogi punya kelemahan bos, karena itu simplifikasi masalah. Karena itu untuk menyeimbangkan analogi anda, saya membuat analogi lain. Jujur saja : saya nggak nyangka jawaban anda sedemikian reaktif seperti itu. Dan jujur juga jawaban anda itu ….cukup menyedihkan saya.

Kalo anda membaca/mengikuti tulisan saya menanggapi serangan yang dilakukan rekan-rekan atheis, anda tentu tahu : Saya membela semua agama yang saya tahu. Meskipun demikian : di depan semua orang saya juga mengkritik standard ganda yang dilakukan oleh banyak penganut agama. Standard Ganda yang dilakukan oleh siapa saja termasuk yang dilakukan oleh penganut agama atau yang tidak beragama.

Anda sedemikian berprasangka buruk terhadap saya bos.
Dan jujur itu cukup menyedihkan saya.

Agama Kristen yang saya tahu – saya rasa nggak mengajarkan orang untuk berprasangka sedemikian buruknya.

Saya setuju dengan anda : Kasih itu tidak ada paksaan. Tetapi kasih juga lembah lembut dan rendah hati.

Oke, SaLAM Semuanya….

Semoga Kasih Tuhan beserta dengan kita semua.

16 09 2008
Animemymouse

Pokoknya saya gak mau mbaca koran bolong di tempat2 umum, nanti dikira buat ngintipin dengkul kimpling cewek diseberang saya 🙂

17 09 2008
lovepassword

Iya ide bagus tuh. Hik hik. Bisa buat ngintip dengkul juga ya?

17 09 2008
the unknown

ngebaca koran bolong, ayak-ayak wae, bisanya sih buat ngintip dengkul aza, ama buat bungkus martabak manis

18 09 2008
Emanuel Setio Dewo

Tampaknya kiasan, tetapi sebenarnya kejadian nyata.
Bahkan media yg digunakan dalam artikel ini pun “nyata”, yaitu “koran.”

18 09 2008
Iman Kristen

Thanks…Emanuel Setio Dewo, tulisan itu saya buat atas komentar essensi di blog iman kristen mengenai topik “kebenaran sejati”. Saya bersyukur…, kita tidak perlu membaca koran bolong, sehingga sebenarnya itu adalah hal lumrah saja membaca tulisan “muhammad adalah pencontek alkitab yang mahir” sesuai dengan pandangan Alkitab sejati yang kami percayai.

Thanks untuk semua yang menyetujui tidak perlunya membaca koran bolong. Tuhan memberkati.

Salam.

10 10 2008
Animemymouse

@iman kristen

buntut2nya justifikasi terhadap Nabi Muhammad to……….

**ambil lem tambal yg bolong**

10 10 2008
imankristen

To 10#Animemymouse

Thanks untuk komentar anda: **ambil lem tambal yg bolong**

Sesungguh…, tidak baik membaca korang bolong. Kalau sudah dibolongin orangpun.., ada baiknya ditambal kembali seperti semula robekannya.

Salam.

18 10 2008
Animemymouse

iya

daripada buat ngintip dengkul itu tadi man……….bisa2 sepatu hak lancip mampir di kepala…huehehe

18 10 2008
imankristen

Hi hi hi….

Ngintip ada resikonya… anda betul 100%….

Salam

14 12 2009
Budiman Lee

Salam damai sejahtera,
Sy setuju dgn pokok pemikiran utama dr artikel tsb di atas, “…. api kesulitan memurnikan iman …” tentu yg dimaksud adalah iman yg seperti emas, mengalami proses pemurnian. Sebab hal ini tdk berlaku buat iman yg bukan dari emas, krn api kesulitan justru dpt menghanguskannya.

Lalu, iman spt apa yg dpt dikategorikan sbg iman dr emas? Kesimpulan di atas sangat tepat …. yaitu iman yg didasarkan kpd kebenaran yg sejati.

Skrg pertanyaannya …. “Apakah kebenaran yg sejati itu?” Mau tahu lebih bnyk ttng kebenaran yg sejati? Silahkan klik di sini: http://www.kristenemasmurni.com/?p=1#more-1

Best regards, Tuhan Yesus memberkati.

14 12 2009
Budiman Lee

Dan utk mengetahui prinsip emas ttg kebenaran sejati, silahkan klik di sini: http://www.kristenemasmurni.com/?page_id=76

Semoga bermanfaat.

29 09 2010
cak to

kalo menurut saya…

mending biarkan saja anak membacanya…

g da salahnya juga kan??

tak lupa pula sang anak di beri bekal (nasehat2)…

13 02 2011
irwan jamai

Salam perkenalan..
Buat pengetahuan kalian (kristen),saya lelaki muslim dari malaysia..
Baru pertama kali singgah di blog ini..
Mau tanya siapa disini yang suka berdiskusi dengan saya secara ilmiah tanpa menyakiti sesiapa dengan kejian dan sebagainya?
Sudilah kiranya ya?
Pertanyaan pertama saya,saya terkeliru dengan iman kristen..Ya.Saya juga punya operator dari Indonesia yang kristen.Banyak soalan ditanya tapi sepertinya ngak dapat jawapan yang tuntas..
Yang sebenarnya pada kristen Yesus itu Utusan Tuhan atau Tuhan?
Terima kasih ya atas kesudian sesiapa yang jawab..

2 05 2012
melda

iman memang hrus d mliki oleh smua anak-anak tuhan .karna tanpa iman kita bsa dgn mdahnya jtuh k dlam dosa dan bsa trprangkap.

amin
gbu

16 08 2012
alpensai lanbeka

Kebebasan itu tidak membuat orang semakin bebas dan mau melakukan apa saj yang ia mau. Kebebasn itu akan membuat seseorang untuk hberpikir positif, terlebih dalam menata kehidupan kekristenan. Berbicara tentang iman kekristenan berarti berbicara tentang pribadi. Pribadi yang dimaksud disini adalah Pribadi YESUS. Orang kristen yang memiliki iaman sejati adalah mereka yang bukan selalu mengatakan kepada TUHAN aku punya masalah… Tetapi ,mereka yang selalu mengatakan kepada masalah itu bahwa aku punya TUHAN……

18 08 2012
alpensai lanbeka

Pribadi YESUS adalah satu-satunya dasar iman Kristen yang sejati… GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: